Senin, 31 Januari 2011

menjadi penyiar radio dangdut awal segalanya

             Ada sebuah kelucuan sejak awal menjadi penyiar. Kejadian-kejadian yang tidak pernah terbayangkan malahan terjadi dan dialami. sungguh sebuah berkah dan proses pencerdasan bagi diri saya dan sangat terasa sampai saat ini.
            Awal siaran dan itu merupakan tonggak sejarah yaitu di Radio Shinta 97.2 FM, sebuah radio dangdut di Kota Bandung. Saat itu sebagai anak muda di tahun 1999 hanya mengenal sedikit saja lagu-lagu dangdut, bukan karena gengsi tapi karena memang keterbatasan pengetahuan saya tentang lagu-lagu dangdut. Maka tidak heran saat itu kang Yousrul begitu marahnya kepada saya.. " eeeh bek tau ga lagu dangdut itu jumlahnya ribuan. kenapa yang diputer kopi dangdut, terlena dan rhoma irama terus "... hehehehe inget banget marahnya Kang Yous.
           Lantas dengan semangatnya saya masuk ke ruang diskotik (perpustakaan lagu) dan mulai mempelajari semua lagu dangdut berikut penyanyi-penyanyinya, sungguh sebuah pelajaran yang mendalam saat itu. Artinya bahwa penyiar tidak boleh dikotak-kotak (dibagi-bagi) berdasarkan kesenangan pribadi, bahwa seorang penyiar pada dasarnya harus mengenal semua jenis musik, dan setelah seminggu belajar di perpustakaan lagu betapa salut dan kagum kepada musisi dan pencipta lagu.
          Ada sebuah rasa malu dalam diri saya ketika pernah merendahkan pemain kecrek (tamborin), yang saya pikir tingal kecerek-kecrek doang, namun seelah mengenal lagu dangdut betapa susahnya bermain tamborin dengan benar, dalam satu lagu dangdut saja terdapat minimal 3 irama yang berbeda, pada saat intro, interlude sampai refrain sangat berbeda masing-masing ketukannya, luar biasa (maafkan saya kepada seluruh tukang kecrek).
         Dari radio Shinta inilah saya belajar menjadi penyiar yang baik dan benar (thanks To Allah), saya diajarkan tidak hanya sekedar bisa bicara, tapi harus membuat sebuah klimaks kelucuan dalam waktu 3 menit (karena sat itu Radio Shinta terkenal dengan humornya).
        saya diajarkan membuat sebuah angle lain dari kebanyakan radio, mungkin saat itu radio-radio lain sedang sibuk membicarakan vonis ariel (contoh), tapi kami akan mencari angle lain, misalkan dengan dramatisasi proses pengadilan, atau mungkin yang diangkat adalah humor-humor tentang pengadilan, polisi atau jaksa yang dikaitkan dengan sosok Ariel. Hasilnya adalah kemampuan saya dalam membuat sebuah topik dan materi pembicaraan menjadi sangat kaya (ini berguna saat ini ketika sayamenjadi MC, Dosen dan moderator).
        Tidak puas dengan kemampuan saya yang segitu-gitu aja, pemilik radio mengirim saya untuk mengikuti berbagai pelatihan radio, terima kasih banget, karena saya bisa mendapat pembekalan dari almarhum Temmy Lesanpura (maestro radio), ajaran almarhum  begitu membekas ketika memberkan pengarahan bahwa humor itu tidak onani dan humor di radio lebih sulit dibanding tampil live, hal ini berkaitan dengan imaginasi. (semoga bang Temmy diterima sisi Allah).
       Akhirnya begitu kaya akan pengetahuan dan pengalaman yang terjadi diri saya, bayangkan hanya karena saya menjadi penyiar doang, jadilah diri sendiri, jangan permah berhenti untuk mengejar mimpi dan cita-cita. jadi apapun diri kita selama kita menjadi baik dan bagus dalam pekerjaan kita, pasti orang akan menghargainya. Kecerdasan adalah modal utama.
        Sangat sedih melihat atau mendengar rekan-rekan penyiar yang berpindah-pindah radio hanya berdasarkan uang bayaran perjam yang berbeda. Saya yakinkan tidak akan ada gajih penyiar yang bisa mencukupi biaya hidup. LANTAS apa dong.... disinilah kecerdasan kita berperan, peluang-peluang karena menjadi penyiar itu sangat banyak. manfaatkan peluang-peluang itu. kerendahan hati dan sikap selalu mau belajar adalah sifat sejati seorang penyiar, jangan pernah sombong hanya menjadi penyiar. 

saya ingat celoteh Kang Yousrul dan Almarhum Bang Temmy disuatu senja di villa istana bunga puncak  " jika ada yang tidak suka dangdut, maka ada kelainan dalam pendengarannya"... hahahahaha sebuah doktrin para pelaku siaran dangdut, maka saya dengan beraninya membuat tagline sendiri sebagai pengembangannya " DANGDUT MEMANG KAMPUNGAN, TAPI LEBIH KAMPUNGAN YANG GA SUKA DANGDUT
        Baiklah kawan...!!! segitu aja deh curhatnya... live just rock n roll... 



 






 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar